Ubah Botol Bekas Jadi Celengan Unik, Mahasiswa UIN Madura Asah Literasi Finansial Siswa Madrasah Sejak Dini

­PAMEKASAN, — Menanamkan kecerdasan finansial tidak harus menunggu anak beranjak dewasa. Berangkat dari urgensi kesenjangan antara inklusi dan pemahaman keuangan nasional, tim mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Madura menggelar aksi edukasi literasi keuangan interaktif yang menyasar 40 siswa kelas IV hingga VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Yayasan Al Kholili.

Inisiatif yang dihelat pada Rabu (5/8/2026) oleh tim pengabdian yang digawangi Intan Nur Aini, Dina Aulia Islami, Anis Fitria, Meisinta, dan Dwi Putri Arianti ini mengusung metode belajar aplikatif yang memadukan teori dengan praktik nyata. Mengingat hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat pemahaman finansial masyarakat yang masih tertinggal dibanding akses perbankan, tim berupaya membedah konsep keuangan menjadi materi yang kontekstual bagi dunia anak-anak, mulai dari mengenali nilai mata uang, menata prioritas uang saku, hingga membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan konsumtif semata.

Keseruan semakin tampak saat para siswa diajak menerjemahkan konsep hemat tersebut melalui lokakarya pembuatan celengan kreatif. Dengan memanfaatkan barang bekas seperti botol plastik yang dihias kertas origami, pita warna-warni, dan stiker beraneka motif, para siswa belajar mengubah benda sederhana menjadi media visual yang memotivasi mereka untuk menyisihkan sebagian uang saku setiap hari.

Inisiatif kreatif dan berdampak nyata ini menuai apresiasi tinggi dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Khotibul Umam. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas terobosan mahasiswa yang mampu mengemas materi literasi keuangan yang kerap dianggap kaku menjadi kegiatan yang menyenangkan, sekaligus menegaskan bahwa penanaman disiplin menabung dan manajemen uang sejak tingkat madrasah ibtidaiyah merupakan investasi karakter yang sangat strategis bagi masa depan anak.

Sebagai pemantik antusiasme, rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian apresiasi kepada siswa yang menghasilkan rancangan celengan paling rapi dan orisinal. Edukasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi pemantik kebiasaan baik yang terus bergulir di lingkungan madrasah dan keluarga, sehingga anak-anak tumbuh dengan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak dan mandiri.