15 Kata-Kata Mutiara Jalaluddin Rumi

Ilustrasi (Foto:Pixabay)

Jalaluddin Mohammad Rumi atau sering disebut Rumi adalah seorang penyair sufi Persia, teolog Maturidi, sekaligus ulama yang lahir di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya.

Rumi telah dikenal sebagai salah satu penyair terpopuler dan juga penyair terlaris di berbagai negara.

Puisi-puisinya telah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan juga diubah ke dalam beragam format.

Berikut ini 15 Kata-Kata Mutiara Jalaluddin Rumi :

1.Meskipun aku diam tenang bagai ikan, tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan.

2. Dia adalah Yang tidak mempunyai ketiadaan, saya mencintainya dan Saya mengaguminya.

3. Hawa nafsumu adalah induk segala berhala: berhala jasmani adalah ular, namun berhala ruhani adalah naga.

4. Kematian adalah jembatan yang menghubungkan orang yang mencintai dengan yang dicintainya.

5. Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang telah patah hati terhadap dunia.

6. Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar.

7. Kemarin saya pintar, jadi saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, jadi saya mengubah diri saya sendiri.

8. Ikat dua burung bersama. Mereka tidak akan dapat terbang, kendati mereka tahu memiliki empat sayap.

9. Hati saya begitu kecil, hampir tak terlihat. Bagaimana Anda bisa menempatkan kesedihan besar di dalamnya? Dengar, Dia menjawab, Mata Anda lebih kecil, namun mereka melihat dunia.

10. Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan.

11. Dengan cinta, yang pahit menjadi manis. Dengan cinta, tembaga menjadi emas. Dengan cinta, sampah menjadi jernih. Dengan cinta, yang mati menjadi hidup. Dengan cinta, raja menjadi budak. Dari ilmu, cinta dapat tumbuh. Pernahkah kebodohan menempatkan seseorang di atas tahta seperti ini?

12. Hikmah Tuhan menciptakan dunia supaya segala sesuatu yang ada dalam pengetahuan-Nya menjadi tersingkap.

13. Setiap orang melihat sesuatu yang tak terlihat menurut kadar cahayanya.
Semakin sering ia menggosok cermin hatinya, semakin jelaslah ia melihat segala.

14. Air berkata kepada yang kotor, “Kemarilah.” Maka yang kotor akan berkata, “Aku sungguh malu.” Air berkata, “Bagaimana malumu akan dapat dibersihkan tanpa aku?

15. Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman.