Ojhung: Tradisi Pertarungan Ritual Masyarakat Madura dan Nilai-Nilai Budayanya

Aksi bela diri atau ritual rakyat menggunakan rotan, dikenal sebagai tradisi Ojhung di Madura
Aksi bela diri atau ritual rakyat menggunakan rotan, dikenal sebagai tradisi Ojhung di Madura

Penulis : Aisyah dan Milani Putri Semester 3 Mahasiswa UNIRA

Kebudayaan berasal dari bentuk jamak kata budhi (akal) dan dhaya (kemampuan). Manusia memiliki budhi, yaitu kemampuan untuk berpikir dan mencipta, serta dharma berupa kemampuan atau kelebihan tertentu (Panjaitan, 2014). Setiap budaya memiliki nilai dan keunikannya masing-masing, sehingga dapat dikenali melalui simbol-simbol yang berbeda.

Salah satu warisan budaya yang tumbuh dalam masyarakat Madura secara turun-temurun adalah tradisi Ojhung. Bouvier (2002) menjelaskan bahwa Ojhung merupakan kesenian tradisional Madura yang memadukan unsur musik, pertunjukan, dan perkelahian atau perang tanding antara dua laki-laki. Para petarung sebelumnya telah “dimantrai” oleh dhukon (dukun) dengan tujuan saling melukai, dan tradisi ini hanya dilakukan pada musim kemarau. Oleh institusi kebudayaan nasional, Ojhung digolongkan sebagai seni pertunjukan suci yang memuat unsur olahraga, karena setiap pukulan yang diterima para petarung diyakini berfungsi menghapus “dosa-dosa” masa lalu masyarakat, sehingga “kutukan” kekeringan dapat sirna.

Dalam praktiknya, Ojhung berarti tindakan memukul menggunakan sebuah alat bernama lopaloh—sejenis cambuk yang digunakan oleh dua pemain (tokang Ojhung) di arena yang telah ditentukan. Lopaloh dibuat dari serat tangkai pohon siwalan (tarèbung) yang dililit berlapis-lapis seperti kerangka pecut sepanjang satu setengah lengan orang dewasa. Bagian pangkalnya disangga potongan batang pohon pisang (katebbung) dan diikat pelepah pisang (pappa) sehingga menghasilkan kekuatan ayunan yang mantap. Dibandingkan rotan, lopaloh dianggap lebih tahan lama dan lebih lentur, sementara ujungnya yang keras mudah melukai lawan. Pembuatan lopaloh hanya dapat dilakukan oleh perajin khusus bernama tokang ghâbây, karena alat ini diperlakukan sebagai benda sakral yang dimantrai sebelum digunakan.

Selain memegang lopaloh, tangan kanan petarung juga menjadi target serangan. Oleh karena itu, sebelum bertanding tangan kanan mereka diolesi minyak khusus penahan rasa sakit yang disebut nya’ apoy (minyak anti “api”). Minyak ini biasanya diberikan oleh tokoh agama berkaromah atau dukun yang memiliki ilmu kebal. Sebagai pelengkap, sebagian pelaku Ojhung menyelipkan jimat atau benda pusaka seperti besi kuning, gelang, atau cincin bertuah yang diperoleh melalui tirakat atau warisan keluarga.

Berbeda dengan carok yang menggunakan celurit dan bertujuan melukai atau membunuh, Ojhung disyaratkan memiliki figur penengah, sebagaimana pertandingan olahraga atau seni bela diri. Penengah ini disebut bhâbhuto. Ojhung juga menjadi cara menyelesaikan perselisihan sosial, sehingga kedudukannya lebih mendamaikan dibanding carok yang tidak pernah benar-benar menyelesaikan konflik.

Pertunjukan Tradisi Ojhung
Pertunjukan Tradisi Ojhung

Secara historis, Pamekasan diyakini sebagai tempat awal kemunculan Ojhung. Pada pertengahan abad ke-17, gerombolan pejuang anti-kolonial Belanda dan penentang kerajaan Madura yang berpihak pada kolonial berkumpul di wilayah perbukitan utara Pamekasan. Mereka turut memperkuat pasukan Trunojoyo dalam menentang Mataram, dan kemudian hari menjadi bagian dari perjuangan Pak Lèsap. Dari para pendekar masa itu, salah satunya berjuluk Guntur Ghunong, tokoh yang konon mendapat ilham gaib untuk memanggil hujan melalui ritual Ojhung. Dari peristiwa inilah istilah Ojhung Co’ Ghunong muncul sebagai penghormatan kepada tokoh tersebut.

Sebagai wasit dalam Ojhung, bhâbhuto memiliki peranan penting. Tidak semua orang dapat menjadi bhâbhuto karena mereka harus memenuhi tiga syarat: keberanian (bângal), ketegasan (tegghes), dan kekebalan tubuh (tegghu/akolè’). Lebih dari itu, mereka harus memiliki wibawa, kematangan mental, pengalaman hidup, dan kemampuan bertindak adil. Tugas bhâbhuto adalah memastikan Ojhung berlangsung sesuai aturan, mengarahkan pukulan tepat sasaran, serta melerai pertarung jika tanda-tanda kekalahan muncul demi keselamatan mereka. Bhâbhuto juga bertindak sebagai promotor, mirip promotor tinju, tetapi tidak berhak memaksa siapa pun bertarung.

Setelah bhâbhuto memberi aba-aba, musik klènangan—yang terdiri dari gendang, bonang, dan gong—mulai dimainkan untuk membangkitkan semangat. Pertarung dibatasi sekitar sepuluh hingga dua belas orang yang tampil secara bergantian. Arena Ojhung biasanya memanfaatkan lahan pertanian yang mengering, atau lapangan desa seperti lapangan sepak bola, tenis, dan bulu tangkis. Para penonton tidak hanya datang untuk hiburan, tetapi juga berharap melihat pertarungan yang seru dan menjadi bahan cerita sepulangnya.

Dalam dunia Ojhung terdapat nilai kolektif yang harus dijaga: seberapa pun sakti atau hebatnya seseorang, para pelaku Ojhung dituntut tetap rendah hati. Sikap sombong (nyengghâ’) akan memancing pertarungan lain, karena dianggap tantangan bagi pendekar lain untuk menguji kesaktiannya.