Puisi-puisi Tokoh Legendaris Indonesia

Sajak Widuri Untuk Joki Tobing – W.S Rendra

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.

Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.

Orang-orang miskin menentang kemelaratan.

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,

kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu

karena terlibat aku di dalam napasmu.

Dari bis kota ke bis kota

kamu memburuku.

Kita duduk bersandingan,

menyaksikan hidup yang kumal.

Dan perlahan tersirap darah kita,

melihat sekuntum bunga telah mekar,

dari puingan masa yang putus asa.

Dalam Kemah – Goenawan Mohamad

Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan- potongan pendek interupsi-lima menit, tujuh menit, empat…. Dan aku akan menatapmu dalam tidur.

Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.

Aku dekap kamu.

Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.

Doa – Chairil Anwar 

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

CayaMu panas suci

Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling