Ainur Rahman merupakan pria kelahiran Sumenep, Madura. Dengan latar belakang pendidikan yang mendalam dan kaya pengalaman, ia kini tengah menggeluti profesi sebagai dosen tetap di Universitas Madura. Sebelum menjadi dosen, ia dipercaya menjadi asisten dosen selama kurang lebih satu semester. Amanah itu diberikan oleh dosen seniornya yang kala itu sedang melanjutkan studi doktoral.
Semenjak lulus dari MA An-Najah 1 Karduluk, Sumenep pada tahun 2011, ia langsung melanjutkan pendidikannya di Universitas Madura, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Selama menempuh pendidikan S1, ia terbilang aktif dan produktif. Ia tercatat pernah menjadi Ketua BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Madura, dan beberapa tulisannya pun kerap kali muncul di berbagai laman media, baik cetak maupun elektronik. Hal itulah yang membuatnya dilirik untuk diminta menjadi asisten dosen.
Pada tahun 2020, pria yang kerap disapa “Ainur” ini menamatkan pendidikan S2-nya di Universitas Negeri Yogyakrta. Kemudian pada Oktober 2022, ia memeroleh Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Kemendikbudristek untuk melanjutkan studinya ke jenjang S3 di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Menjadi Awardee BPI tentu saja tidak menghalanginya untuk tetap produktif menulis di media massa, salah satu tulisannya adalah Menakar Plus-Minus Wisuda Sekolah yang terbit pada September 2023 di koran Kabar Madura. Selain menulis di media, ia juga menulis di beberapa laman jurnal. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab dari pekerjaannya sebagai seorang dosen, yaitu Tridharma bidang penelitian. Karya-karyanya tentu dapat dilihat dan diakses secara bebas di google scholar.
Setelah mengantongi pengalaman di jenjang magisternya sejak 2018, ia mampu lulus tepat waktu pada tahun 2020. Hal membanggakan itu tidak membuatnya berhenti berjuang. Bahkan setelah lulus pun, ia belajar untuk berdampak secara langsung dengan mengajar di SMP NU Sumenep. Ia juga merangkap mengajar sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) di STIDAR Ganding, Sumenep. Tak hanya sampai disitu, ia juga menjadi tutor di Universitas Terbuka.
Berbagai kesempatan yang ia dapatkan adalah bukti ketekunannya, meski pada awalnya ia tidak terpikir untuk menjadi dosen. Namun lewat tempaan yang ia dapatkan membawanya menjadi dosen yang dapat diandalkan. Bahkan, di awal studi sarjananya ia masih mengikuti keinginan orang tuanya untuk hanya menjadi guru. Namun justru mewujudkan selebihnya.
Kendati demikian, dosen yang fokusnya di bidang pembelajaran Bahasa Indonesia ini rupanya sempat mengalami kegagalan yang pahit. Sebelum menjadi dosen tetap di Universitas Madura, ia kerapkali gagal dalam mengikuti seleksi CPNS. Tetapi kegagalan itu tidak pernah ia ambil pusing. Ia justru mengalihkan masa-masa pahitnya dengan kembali apply beasiswa untuk studi doktoralnya dengan mengikuti serangkaian tes, mulai dari administrasi dan wawancara. Hingga akhirnya ia berhasil mendapat Beasiswa Pendidikan Indonesia untuk formasi dosen dibawah naungan Kemendikbudristek. Kesempatan emas itu ia gunakan semaksimal mungkin di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Saat ini ia tengah disibukkan dengan penelitian untuk disertasinya. (Hurriana/red)





